KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Pemerintah Kota Kendari terus berupaya menekan angka stunting dengan melakukan Rapat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kota dirangkaikan dengan penandatanganan komitmen bersama Stakeholder terkait sebagai orang tua asuh, di salah satu hotel di Kendari, Senin (2/6/2025).
Acara yang diinisiasi oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) Kota Kendari dibuka secara resmi oleh Asisten II Setda Kota Kendari, Ir. Nismawati, mewakili Wali Kota Kendari.
Rapat ini merupakan bagian dari Aksi Konvergensi Stunting 2025 tingkat Kota Kendari, yang bertujuan menyatukan langkah seluruh sektor dalam menurunkan prevalensi stunting.
Dalam sambutannya, Ir. Nismawati, menekankan bahwa stunting merupakan isu prioritas nasional yang mengancam masa depan bangsa. Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi berdampak pada kualitas hidup, pendidikan, dan produktivitas.
“Stunting bukan hanya soal tinggi dan berat badan anak, melainkan berdampak panjang terhadap kualitas hidup, pendidikan, dan produktivitas,” tegasnya, dikutip dari akun Kendarikota.go.id, Senin (2/6).
Nisma mengungkapkan, berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat angka stunting di Kendari sebesar 25,7%, sementara SSGI menunjukkan 20%, masih di atas target nasional 18,8% pada 2025.
Untuk itu, lanjut Mantan Kepala Dinas Kominfo ini, Pemerintah Kota Kendari telah melakukan berbagai intervensi, termasuk intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan, peningkatan layanan kesehatan, dan intervensi sensitif (penyediaan air bersih, sanitasi, edukasi).
Meski demikian, ia menekankan bahwa angka yang masih di atas target menunjukkan perlunya kerja lebih keras dan koordinasi lintas sektor yang lebih solid.
Nismawati juga menekankan intruksi wali kota agar setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan evaluasi atas kinerja dan kontribusi sektoralnya berdasarkan hasil audit kasus stunting tahun sebelumnya.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi program dan anggaran oleh Bappeda, pemanfaatan data keluarga risiko stunting secara presisi, serta pemberdayaan tokoh masyarakat, kader, dan media dalam mengedukasi publik. Camat dan Lurah juga diminta menjadi motor penggerak utama program di wilayah masing-masing.
Program unggulan Kota Kendari dalam mengatasi stunting adalah Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (GENTING).
Nismawati berharap program GENTING dapat menjadi gerakan kolaboratif yang berkelanjutan, menyentuh akar permasalahan stunting seperti pemenuhan gizi ibu hamil, edukasi orang tua, serta akses sanitasi layak.
“Pendekatan whole of government dan whole of society harus terus diperkuat untuk hasil yang optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Kendari, Jahudding, turut menyampaikan bahwa saat ini terdapat 1.018 keluarga yang teridentifikasi berisiko stunting. Data ini dikumpulkan melalui pemutakhiran rutin tahunan dengan mempertimbangkan enam indikator risiko, termasuk akses sanitasi, air bersih, serta kondisi “4 terlalu” (terlalu muda/tua saat hamil, terlalu banyak anak, dan terlalu rapat jarak kehamilan).
“Melalui program GENTING, kami ingin menggandeng masyarakat yang mampu untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga yang membutuhkan pendampingan,” jelasnya.
Jahudding juga menyampaikan bahwa program ini mulai menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan angka stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2024. Namun, ia menegaskan bahwa penurunan tersebut tidak boleh membuat puas.
“Kita harus terus bergerak bersama mengejar target nasional 14%. Hanya dengan sinergi dan gotong royong lintas sektor, upaya kita akan benar-benar berdampak dan berkelanjutan,” tutupnya.
Editor: Hasrul Tamrin











