KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Pemerintah Kota Kendari kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional, berhasil menerima penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam ajang Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026, pada Senin (25/5/2026).
Festival yang menjadi rangkaian semarak Hari Pendidikan Nasional itu berlangsung selama 22–26 Mei 2026 dengan panggung apresiasi yang digelar sejak 24 Mei dan mencapai puncaknya pada 25 Mei, yang digelar di Gedung Garuda, PPSDM Kemendikdasmen, Bojongsari, Depok.
Penghargaan bergengsi tersebut diterima langsung Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, yang hadir bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Hj Saemina. Kehadiran keduanya menjadi simbol komitmen Pemerintah Kota Kendari dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Tidak hanya menerima penghargaan, Kota Kendari juga tampil membawa kebanggaan tersendiri melalui partisipasi dua pelajar sekolah dasar, yakni Aska dari SD Negeri 6 Kendari dan Yuanisa Patin Marsa dari SD Negeri 84 Kendari. Keduanya mewakili Kota Kendari dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional bersama peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional sendiri merupakan agenda nasional yang bertujuan memperkuat pelestarian bahasa daerah melalui keterlibatan aktif pelajar, guru, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang penyerahan penghargaan revitalisasi bahasa daerah, tetapi juga menampilkan beragam pertunjukan seni budaya dan bahasa daerah dari seluruh nusantara.
Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas penghargaan yang berhasil diraih Kota Kendari.
Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kota Kendari sekaligus motivasi untuk terus menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi.
“Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya, dilansir dari laman resmi Pemkot Kendari, Rabu (27/5/2026).

Ia menilai, keberhasilan Kota Kendari menerima penghargaan nasional ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman. Apalagi, keterlibatan para pelajar dalam festival nasional menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Kota Kendari memiliki kepedulian terhadap warisan budaya daerah.
“Ini membuktikan bahwa generasi muda Kota Kendari memiliki semangat untuk melestarikan budaya daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Hj Saemina, mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, dan masyarakat dalam mendukung program revitalisasi bahasa daerah.
Menurutnya, upaya pelestarian bahasa ibu tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dibangun sejak usia dini melalui pembelajaran di sekolah serta berbagai kegiatan budaya yang melibatkan anak-anak dan generasi muda.
“Bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman. Karena itu, Pemerintah Kota Kendari akan terus mendorong berbagai program pelestarian budaya dan bahasa daerah agar tetap hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.
Prestasi yang diraih Kota Kendari ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa daerah bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat identitas dan karakter generasi muda di era globalisasi.

Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa pelestarian ini tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata. Bahasa ibu harus diperkuat sebagai pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah agar generasi muda tetap akrab dan bangga.
“Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, maka lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan,” ujarnya.
Atip juga menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berbasis Large Language Model (LLM) agar bahasa daerah tetap relevan.
“Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda,” kata Wamendikdasmen.
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut ajang ini sebagai puncak program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang melibatkan proses panjang, mulai dari penyusunan bahan ajar hingga pelatihan guru.
“Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman,” tutur Hafidz. ** (Adv)
Editor: Hasrul Tamrin











