Muna

Proyek Strategis Nasional Bendung Laiba di Kabupaten Muna Rampung 100 Persen

787
×

Proyek Strategis Nasional Bendung Laiba di Kabupaten Muna Rampung 100 Persen

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ist/KR)

KOLOMRAKYAT.COM; MUNA – Di tengah isu krisis pangan global dan cuaca yang makin tak bisa ditebak, Kabupaten Muna tak mau hanya jadi penonton. Air dijadikan kunci. Bendung dibangun. Irigasi diperkuat. Strateginya sederhana tapi fundamental: kalau air aman, sawah tenang.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari tancap gas membangun dan merehabilitasi tiga bendung sekaligus—Bendung Laiba (pembangunan baru), serta peningkatan Bendung Labulu-Bulu dan Kolasa. Tiga titik ini menjadi simpul pengairan untuk dua kecamatan: Parigi dan Kabawo. Wilayah yang selama ini sangat bergantung pada kemurahan langit.

Proyek Bendung Laiba bahkan sudah dinyatakan rampung 100 persen. Bendung baru ini dirancang mengairi 615,84 hektare lahan persawahan. Angka yang bukan kecil bagi daerah yang denyut ekonominya masih sangat ditopang sektor pertanian.

Baca Juga :  Kejari Muna Gelar Forum Konsultasi Publik, Tingkatkan Standar Pelayanan Masyarakat

Humas BWS Sulawesi IV Kendari, Rahmat, menjelaskan pembangunan dan rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari penguatan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung ketahanan pangan.

“Ketiga bendung ini diproyeksikan memperkuat suplai air irigasi di Parigi dan Kabawo,” ujarnya Jumat (13/2/2026).

Bukan hanya soal sawah. Infrastruktur ini juga diarahkan untuk pengendalian banjir dan penyediaan air baku. Dengan peningkatan volume tampungan air, suplai irigasi diharapkan tetap stabil sepanjang tahun—tak lagi terlalu cemas saat musim kemarau datang terlalu panjang atau hujan datang terlalu ekstrem.

Narasi besarnya tentu tak lepas dari program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas. Dari pusat, kebijakan itu mengalir hingga ke daerah. Di Muna, wujud konkretnya adalah beton, pintu air, dan saluran irigasi yang diperbaiki.

Baca Juga :  Bupati Bachrun Labuta Melantik Lima Orang Pimpinan Baznas Kabupaten Muna

Proyek ini belum selesai sepenuhnya dalam arti luas. Tahun 2026, pembangunan jaringan irigasi lanjutan direncanakan untuk mengoptimalkan distribusi air ke lahan-lahan persawahan. Artinya, Laiba bukan garis akhir—ia baru starting point.

Tokoh pemuda Muna, Tayeb, menilai pembangunan bendung sangat krusial di tengah perubahan iklim yang makin sulit diprediksi.

“Pembangunan bendung ini penting untuk menjaga ketersediaan air sepanjang tahun. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” katanya, Jumat (13/2026).

Ia juga menyebut proyek tersebut mendapat atensi serius dari Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae dan Bupati Muna Bachrun Labuta. Keduanya turun langsung meninjau progres pembangunan.

Baca Juga :  Ketua DPRD Sultra bersama Anggota Reses dengan Pemda Muna Bahas Program Pangan

“Kami sangat mengapresiasi Pak Ridwan Bae yang berhasil membawa proyek Kementerian PUPR ke Bumi Sowite. Dampaknya nyata, sekaligus mengangkat wajah Kota Raha,” tegas Tayeb.

Di banyak daerah, proyek infrastruktur kerap berhenti di papan nama. Di Muna, setidaknya untuk saat ini, air mulai mengalir lebih pasti. Bendung berdiri bukan sekadar simbol pembangunan, tetapi sebagai sabuk pengaman bagi petani.

Ketahanan pangan memang sering terdengar sebagai jargon nasional. Tapi di Parigi dan Kabawo, ia hadir dalam bentuk yang lebih konkret: sawah yang tetap terairi, musim tanam yang lebih terukur, dan harapan panen yang tak lagi sepenuhnya bergantung pada langit.

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!