/*
Breaking News
*/
Kampus

PKM FP UHO Dorong Warga Pesisir Poleang Timur Terapkan Climate-Smart Agriculture Hadapi Perubahan Iklim

12
×

PKM FP UHO Dorong Warga Pesisir Poleang Timur Terapkan Climate-Smart Agriculture Hadapi Perubahan Iklim

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ist/KR)

KOLOMRAKYAT.COM: BOMBANA – Menghadapi ancaman perubahan iklim yang kian berdampak terhadap sektor pangan, tim dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mendorong masyarakat pesisir Kecamatan Poleang Timur, Kabupaten Bombana, menerapkan Climate-Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim.

Upaya tersebut dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi berbagai risiko perubahan iklim.

Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan dengan sistem pertanian yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menekankan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim serta mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Masyarakat pesisir dinilai memiliki posisi strategis dalam pembangunan pangan, namun pada saat yang sama menghadapi berbagai tekanan lingkungan, termasuk perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, kekeringan, banjir, serta perubahan kondisi sumber daya lahan dan air.

Ketua Tim PKM, Dr. Syamsu Alam, S.P., M.Sc mengatakan fokus kegiatan PKM kali ini yaitu memperkenalkan praktik-praktik pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal.

Baca Juga :  UHO Matangkan Langkah Menuju Akreditasi Internasional, LPMPP Genjot Penyusunan SAR Berbasis Klaster

Praktik tersebut antara lain pengelolaan bahan organik, pemanfaatan limbah pertanian, konservasi tanah dan air, diversifikasi tanaman, pengelolaan hara secara lebih efisien, serta pengembangan sistem pertanian terpadu yang sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir.

“Pendekatan tersebut penting karena perubahan iklim memberikan tekanan ganda terhadap sistem pangan. Di satu sisi, sektor pertanian harus mampu menyediakan pangan bagi masyarakat, sedangkan di sisi lain sistem pertanian harus beradaptasi terhadap perubahan kondisi iklim dan mengurangi dampak lingkungannya. CSA dikembangkan sebagai pendekatan yang mengintegrasikan kedua kebutuhan tersebut dalam konteks lokal,” ucap Syamsu Alam, kepada awak di lokasi pengabdian, Minggu (1/8/2026).

Menurutnya, Climate-Smart Agriculture dikembangkan sebagai pendekatan yang mengintegrasikan peningkatan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan pengurangan dampak lingkungan dalam konteks lokal.

Program PKM tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga melalui optimalisasi sumber daya lokal yang tersedia di sekitar masyarakat.

Diversifikasi komoditas dan pengembangan pertanian yang sesuai dengan kondisi lingkungan dinilai dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis komoditas sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.

Baca Juga :  Dosen Prodi Keperawatan Kedokteran UHO Edukasi Kader Posyandu Penyuluhan Kesehatan dan Pencegahan Stunting

Salah satu pendekatan yang dinilai potensial adalah pengembangan sistem pertanian terpadu dengan mengintegrasikan tanaman pangan, hortikultura, ternak, serta pemanfaatan limbah organik.

“Limbah dari satu komponen sistem dapat dimanfaatkan sebagai input bagi komponen lainnya sehingga penggunaan sumber daya eksternal dapat ditekan,” jelasnya.

Dosen Ilmu Tanah UHO itu menambahkan bahwa selain meningkatkan efisiensi, pemanfaatan bahan organik juga memiliki nilai strategis dalam menjaga kualitas tanah. Tanah yang sehat memiliki kemampuan lebih baik dalam menyimpan air dan menyediakan lingkungan tumbuh yang mendukung produktivitas tanaman.

“Dengan demikian, pengelolaan tanah menjadi bagian penting dari strategi adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim,” terangnya.

Dalam pengimplementasiannya, keberhasilan penerapan CSA juga sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk mengintegrasikan inovasi dengan pengetahuan lokal dan kondisi lingkungan setempat.

“Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, penyuluh pertanian, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program,” kata Dosen Ilmu Tanah itu.

Baca Juga :  LPDP Jemput Bola di UHO, Pendaftaran Beasiswa Tahap II 2026 Dibuka hingga 31 Juli

Ke depan, lanjut dia, model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis CSA di Poleang Timur diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pertanian adaptif di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara. Model tersebut dapat dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga, meningkatkan kualitas sumber daya lahan, dan membangun kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim.

Melalui kegiatan ini, perguruan tinggi menunjukkan perannya tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan pembangunan, khususnya dalam mewujudkan pertanian yang produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan berkelanjutan.

“Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, masyarakat pesisir Poleang Timur diharapkan semakin mampu membangun sistem pangan lokal yang tangguh sekaligus menjaga sumber daya alam untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!