KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Unit Pelaksana Akademik (UPA) Kebun Ilmu Hayati Universitas Halu Oleo yang dikenal sebagai Kebun Raya UHO kembali menunjukkan perannya sebagai pusat edukasi dan konservasi melalui penyelenggaraan webinar bertajuk “Mengungkap Kekayaan Burung dan Kelelawar di Kebun Raya UHO”, yang digelar secara virtual melalui Zoom, pada Senin (13/4/2026).
Kegiatan ilmiah ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi UHO, yakni Adi Karya, S.Si., M.Sc sebagai dosen Jurusan Biologi FMIPA UHO dan La Ode Muhammad Erif, S.Si., M.Sc sebat dosen Jurusan Ilmu Lingkungan FHIL UHO. Webinar dipandu oleh Muhamad Azwar Syah, S.Si., M.Si sebagai dosen Prodi Bioteknologi FMIPA UHO.
Webinar ini dibuka secara resmi oleh Kepala UPA Kebun Ilmu Hayati UHO, Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, S.Hut., M.Si.
Sebanyak 103 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, mahasiswa, pemerhati biodiversitas Sulawesi hingga perwakilan instansi pemerintah, turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Dalam sambutannya, Prof. Faisal Danu Tuheteru, menegaskan bahwa Kebun Raya UHO memiliki peran strategis sebagai penyedia jasa lingkungan sekaligus habitat alami bagi flora dan fauna khas Sulawesi.
“Selama ini, informasi terkait kekayaan fauna seperti burung dan kelelawar di Kebun Raya UHO belum terdokumentasi secara optimal. Melalui dukungan pendanaan universitas dan kolaborasi tim dosen, kini telah dilakukan pencatatan berbagai jenis fauna yang ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil pendataan tersebut disebarluaskan melalui webinar sebagai bagian dari upaya edukasi serta peningkatan kesadaran konservasi di kalangan civitas akademika dan masyarakat luas.
Dalam pemaparannya, Adi Karya mengungkapkan bahwa Kebun Raya UHO menjadi habitat bagi 44 jenis burung dari 28 famili. Dari jumlah tersebut, 11 jenis merupakan burung endemik Sulawesi, serta ditemukan pula satu jenis burung migran asal Australia, yakni Kirik-kirik Australia.
Sementara itu, La Ode Muhammad Erif menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan juga berhasil mengidentifikasi sembilan jenis kelelawar di kawasan tersebut, dengan dua di antaranya merupakan spesies endemik Sulawesi.
Temuan ini diharapkan menjadi basis data penting dalam pengelolaan Kebun Raya UHO ke depan, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pengembangan pendidikan berbasis lingkungan.
“Oleh karena itu, selain disampaikan melalui webinar, hasil penelitian ini juga perlu dipublikasikan dalam bentuk karya ilmiah seperti jurnal atau buku,” tutup Prof. Danu.
Editor: Hasrul Tamrin











