KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Kantor Pengawasan, Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Kendari mendorong dan mengupayakan agar ekspor komoditi non-pertambangan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bisa ditingkatkan menjadi ekspor bahan jadi, bukan bahan mentah. Untuk itu, peran pemerintah provinsi, kabupaten dan kota sangat diharapkan melalui pengalokasian anggaran.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukui Kendari, Tonny Riduan P. Simorangkir, mengatakan untuk merealisasikan program ekspor bahan jadi komoditi non-pertambangan di Sultra telah berupa berkomunikasi dan berkoordinasi, mengajak pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, utamanya kepala-kepala daerah di tingkat kabupaten dan kota se- Sultra agar pada APBD Tahun 2026 nanti, bisa mengalokasikan lebih banyak anggaran dari pemerintah pusat untuk kegiatan hirilisasi produk non-pertambangan, seperti produk hasil pertanian, perkebunan, maupun kelautan.
“Kenapa demikian, supaya produk-produk yang diekspor dari Sulawesi Tenggara bukan lagi produk-produk atau barang mentah, sudah diolah dalam bentuk bahan jadi, sehingga bisa memiliki nilai tambah,” katanya, usai menggelar Coffee Morning bersama awak media di Kendari, Kamis (12/6/2025).
Menurut dia, di sisi lain, jika produk-produk yang diekspor sudah diolah bisa membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan atau membuka lapangan kerja baru. Otomatis ekonomi Sultra akan meningkat.
“Hal ini tentu bisa menjadi alternatif bagi masyarakat, dan bisa menopang hirilisasi sektor pertambangan yang kita tahu sedang berlangsung. Itulah upaya yang sedang kami lakukan,” terangnya.
Kepala Bea Cukui menyebutkan, banyak produk-produk pertanian yang bisa menjadi bahan ekspor bahan hasil olahan oleh pemerintah daerah di Sultra. Misalnya, tanaman Nilam yang saat ini sedang ramai dibudidayakan masyarakat petani. Apalagi minyak ekspor Nilam cukup signifikan saat ini.
“Kalau produk Nilam itu bisa diolah dalam bentuk kualitas ekspor, tentu jauh lebih meningkat nilainya. Olehnya itu, kami harapkan anggaran Pemda tahun depan untuk pembangunan sektor-sektor reel sangat penting,” cetus Tonny Riduan
Selain Nilam, ada produk Kelapa yang dianggap punya potensi ekspor tinggi jika sudah diolah dalam bentuk bracket, coconut oil, atau bentuk lain. Jika dibandingkan diekspor dalam bentuk bulat-bulat atau barang mentah.
Ada juga produk Jagung yang ada di Kabupaten Muna Barat dan Muna yang saat ini melipah yang sedang digalakkan oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Jika Jagung dipadukan dengan tulang-tulang ikan limbah diolah menjadi pakan ternak, harganya bisa lebih tinggi dan peternak untuk mendapatkan bahan baku pakan ternak sudah tidak perlu membeli dari luar.
“Apabila semua komoditi -komoditi tersebut dikelolah sendiri melalui pabrik, bisa mengurangi angka pengangguran yang sedang meningkat, penciptaan lapangan kerja tentu sangat diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, inilah misi kami bersama dengan pemerintah pusat dalam hal ini Kemenkeu dan pemerintah daerah,” pungkasnya.
Laporan: Hasrul Tamrin











