KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Upaya
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tengah, dalam mengintervensi pencegahan kasus HIV/AIDS menunjukkan dampak positif. Terbukti temuan kasus penyakit HIV/AIDS hingga Mei 2026 cenderung menurun dibandingkan tahun – tahun sebelumnya.
Beberapa upaya interferensi pencegahan yang intens dilakukan Dinas Kesehatan diantaranya, penyuluhan, perluasan skrining, pendampingan kelompok rentan, hingga memastikan seluruh penderita HIV mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Elfi, mengatakan salah satu strategi utama yang dilakukan adalah meningkatkan upaya pencegahan melalui skrining yang dilaksanakan baik di dalam maupun di luar fasilitas kesehatan.
Skrining di luar gedung difokuskan pada delapan populasi kunci yang memiliki risiko lebih tinggi tertular HIV, seperti wanita pekerja seksual (WPS), lelaki seks dengan lelaki (LSL), serta transgender atau waria. Sementara itu, skrining di dalam fasilitas kesehatan menyasar ibu hamil dan penderita tuberkulosis (TBC).
“Dalam kegiatan penjangkauan kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami menggandeng komunitas yang memahami kelompok sasaran agar proses edukasi dan pemeriksaan berjalan lebih efektif,” ujar Elfi, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, Dinkes juga menjalin kerja sama dengan pengelola rumah makan, restoran, tempat karaoke, hingga tempat hiburan malam untuk mempermudah akses edukasi dan pemeriksaan bagi kelompok yang berisiko.
Selain menemukan kasus baru, Dinkes memastikan seluruh pasien yang telah terdiagnosis HIV segera mendapatkan terapi ARV tanpa syarat.
Pengobatan tersebut dinilai sangat penting karena mampu menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan.
“Harapannya, ketika pasien rutin mengonsumsi ARV, jumlah virus dalam tubuh akan menurun sehingga potensi penularan juga semakin kecil. Karena itu, kepatuhan menjalani pengobatan menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV,” jelasnya.
Di sisi lain, penyuluhan juga terus digencarkan kepada berbagai lapisan masyarakat, mulai dari Posyandu bagi ibu hamil, sekolah tingkat SMP dan SMA, warga binaan pemasyarakatan, hingga pekerja di tempat-tempat hiburan malam. Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan serta pemeriksaan dini HIV.
Berdasarkan data, hingga Mei 2026 Dinkes mencatat temuan kasus HIV/AIDS di Kota Kendari sebanyak 102 kasus baru. Jika dibandingkan tiga tahun sebelumnya, jumlah kasus baru menunjukkan tren penurunan. Pada 2023 ditemukan 311 kasus baru, kemudian turun menjadi 270 kasus pada 2024, dan kembali menurun pada 2025 meski jumlah masyarakat yang menjalani skrining terus meningkat.
Elfi menambahkan, dari 102 kasus yang ditemukan sepanjang 2026, mayoritas merupakan kasus ditemukan pada laki-laki dan kelompok usia penderita merupakan usia produktif antara 25 hingga 49 tahun.
Dinkes berharap semakin banyak masyarakat, khususnya kelompok berisiko, yang bersedia melakukan pemeriksaan sehingga status HIV dapat diketahui lebih dini dan penularan dapat dicegah.
Laporan: Hasrul Tamrin











