/*
Breaking News
*/
Kolom Sultra

1.027 Ton Komoditas Sultra Tepung Tapioka dan Minyak Kelapa Mentah Diekspor ke Tiongkok-Malaysia

42
×

1.027 Ton Komoditas Sultra Tepung Tapioka dan Minyak Kelapa Mentah Diekspor ke Tiongkok-Malaysia

Sebarkan artikel ini
Komoditas Sultra Tepung Tapioka dan Minyak Kelapa Mentah diekspor ke Tiongkok-Malaysia. (Foto: Dok. Balai Karantina Sultra)

KOLOMRAKYAT.COM: KONSEL – Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menunjukkan taringnya di pasar ekspor internasional. Sebanyak 1.027 ton Tepung Tapioka dan Minyak Kelapa Mentah senilai Rp10,9 miliar resmi diekspor langsung dari Sultra ke Tiongkok dan Malaysia.

Ekspor perdana (direct export) tersebut dilepas oleh Pemerintah Provinsi Sultra bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) di fasilitas PT Agri Cassava Makmur, Kabupaten Konawe Selatan, pada Kamis (10/9/2026).

Komoditas yang diekspor terdiri atas 900 ton Tepung Tapioka yang produksi PT Agri Cassava Makmur senilai sekitar Rp7,3 miliar yang dikirim ke Tiongkok, serta 127 ton Crude Coconut Oil (CNO) hasil produksi PT Sofi Agro Industries senilai Rp3,6 miliar untuk pasar Malaysia.

Langkah ini dinilai menjadi momentum penting bagi Sultra karena produk unggulan daerah kini dapat dikirim langsung ke negara tujuan tanpa harus terlebih dahulu melalui daerah lain seperti Makassar maupun Surabaya.

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, mengatakan ekspor langsung menjadi langkah strategis untuk memastikan komoditas asal Sultra tercatat sebagai bagian dari aktivitas ekspor daerah.

“Selama ini komoditas pertanian ikon Sultra diekspor melalui daerah lain seperti Makassar dan Surabaya, sehingga daerah inilah yang selalu tercatat sebagai pengekspor di pusat. Hal inilah yang perlu menjadi perhatian kita bersama,” ujar Andi Sumangerukka.

Menurutnya, direct export bukan sekadar memperpendek jalur distribusi, tetapi juga memperkuat proses hilirisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas yang dihasilkan di Sultra.

Baca Juga :  Prioritaskan Layanan Kesehatan, Gubernur Sultra Matangkan Pembangunan Gedung Baru RSUD Bahteramas dan Percepat Pengadaan Ambulans Laut

“Keberhasilan ekspor tepung tapioka sebanyak 900 ton ke Tiongkok dan minyak kelapa sebanyak 127 ton ke Malaysia langsung dari fasilitas produksi di Konawe Selatan ini menjadi bukti nyata kesiapan industrialisasi Sultra,” katanya.

“Produk-produk unggulan daerah kini bisa langsung menuju negara tujuan tanpa perlu lagi dilalulintaskan melalui pelabuhan luar provinsi,” lanjutnya.

Andi Sumangerukka menegaskan, Sultra memiliki potensi komoditas yang besar, tidak hanya dari sektor pertanian dan perkebunan, tetapi juga perikanan serta berbagai komoditas hayati lainnya.

Karena itu, pemerintah daerah akan terus mendorong hilirisasi produk unggulan sekaligus memperluas akses pasar internasional agar sumber daya yang dimiliki daerah mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian masyarakat dan daerah.

<span;>*Karantina Jadi Pengungkit Ekspor

Sementara itu, Kepala Barantin Abdul Kadir Karding, menilai ekspor langsung tersebut menunjukkan peran strategis karantina dalam mendukung perdagangan internasional.

Menurut Karding, fungsi karantina tidak sebatas menjaga pintu masuk dan keluar wilayah dari ancaman penyakit hewan, ikan, maupun organisme pengganggu tumbuhan. Karantina juga berperan sebagai economic tools pemerintah untuk memfasilitasi perdagangan.

“Sebagai economic tools pemerintah, karantina menyeimbangkan aspek perlindungan hayati hewan, ikan, dan tumbuhan dengan penyediaan fasilitas perdagangan yang cepat. Kami pastikan kemudahan kepada eksportir melalui percepatan layanan sertifikasi,” ujar Karding.

Baca Juga :  Gubernur Andi Sumangerukka Dorong Akselerasi Pembangunan Sultra: Kolaborasi dan Pemerataan 2027

Ia menjelaskan, sertifikasi karantina menjadi salah satu instrumen penting agar komoditas Indonesia mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan negara tujuan.

“Sertifikasi karantina adalah jaminan mutlak di pasar global bahwa komoditas dari Sulawesi Tenggara ini telah memenuhi standar kesehatan dan aspek keamanan pangan, sehingga komoditas negara Indonesia dapat diterima dengan baik di negara tujuan ekspor,” katanya.

Berdasarkan data BEST Trust, sejumlah komoditas asal Sultra telah menembus pasar internasional. Pada sektor hewan antara lain terdapat awetan serangga.

Sementara sektor perikanan meliputi tenggiri, kepiting bakau, kerapu, tuna dan kerang darah. Adapun dari sektor tumbuhan terdapat tepung tapioka, minyak kelapa, tetes tebu, arang dan kelapa bulat.

Karding menyebut nilai sertifikasi komoditas wajib karantina dari gabungan sektor hewan, ikan dan tumbuhan di Sultra sepanjang periode pencatatan 2026 mencapai Rp593,54 miliar.

“Berdasarkan data BEST Trust, sektor capaian nilai sertifikasi barang wajib karantina Sultra untuk gabungan ketiga sektor tersebut sukses membukukan total devisa daerah sebesar Rp593,54 miliar sepanjang periode pencatatan di tahun 2026. Performa positif ini akan terus kita dorong agar komoditas Sultra pada sektor pertanian dan perikanan terus meningkat untuk mendongkrak nilai tambah ekonomi dalam negeri,” ujar Karding.

* DPR RI Dorong Penguatan Infrastruktur Ekspor

Baca Juga :  Diguyur Hujan Deras, Kantor Dinas Kominfo Sultra Terendam Banjir Setinggi Paha

Anggota Komisi IV DPR RI, Jaelani, mengapresiasi ekspor langsung tersebut sebagai bukti kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam membuka akses pasar internasional bagi komoditas unggulan Sultra.

“Kami sangat mengapresiasi lompatan besar ini. Keberhasilan ekspor perdana ini membuktikan bahwa sinergi regulasi pusat dan eksekusi daerah berjalan sangat baik,” kata Jaelani.

Ia mendorong agar digitalisasi layanan sertifikasi dan penguatan sistem ketertelusuran atau traceability terus dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk Sultra di pasar global.

Selain itu, Jaelani menilai penguatan fasilitas laboratorium dan sumber daya manusia karantina di Sultra juga menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya peluang ekspor.

“Kami mendukung melalui kebijakan dan pengawasan anggaran agar sarana laboratorium serta SDM karantina di Sultra semakin mumpuni, sehingga peluang ekspor potensial di sektor pertanian dan kelautan Bumi Anoa dapat terus ditingkatkan demi kesejahteraan para petani serta nelayan kita,” ujarnya.

Pelepasan ekspor langsung tersebut turut disaksikan jajaran Forkopimda Sultra, Bank Indonesia, Bea Cukai Kendari, KSOP, Pelindo, serta sejumlah pelaku usaha di Sulawesi Tenggara.

Dengan dimulainya direct export tersebut, produk hilirisasi Sultra kini memiliki jalur yang lebih langsung menuju pasar internasional. Pemerintah daerah bersama Barantin berharap pola serupa dapat diperluas ke berbagai komoditas unggulan lainnya.

 

 

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!