KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas di kawasan Indonesia Timur kembali ditegaskan Universitas Halu Oleo (UHO). Melalui Fakultas Kedokteran, kampus kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara itu resmi meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah sebagai langkah strategis menjawab kebutuhan tenaga medis spesialis, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan.
Peluncuran program yang digelar pada Jumat, 13 Februari 2026 tersebut menjadi tonggak penting dalam penguatan sistem kesehatan berbasis daerah. Kehadiran PPDS Ilmu Bedah di UHO bukan sekadar penambahan program akademik, tetapi juga wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat di daerah kepulauan.
Selama ini, Sulawesi Tenggara (Sultra) masih menghadapi keterbatasan dokter spesialis, terutama di wilayah terpencil dan pesisir. Kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau membuat akses layanan kesehatan lanjutan, termasuk tindakan bedah, belum merata. Tidak sedikit pasien harus dirujuk ke kota besar bahkan keluar daerah demi mendapatkan penanganan medis yang memadai.
Melihat kondisi tersebut, UHO mengambil langkah progresif dengan menghadirkan PPDS Ilmu Bedah yang dirancang khusus sesuai kebutuhan daerah. Program ini diharapkan mampu melahirkan dokter spesialis yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memahami tantangan geografis dan sosial masyarakat pesisir.
Pelaksana Tugas Rektor UHO, Herman, menegaskan pembukaan PPDS Ilmu Bedah merupakan amanah besar yang sarat nilai kemanusiaan.
“Ini bukan sekadar program pendidikan, tetapi juga misi kemanusiaan. Kita ingin memastikan masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” ujarnya.

Menurut Herman, UHO mengusung konsep “bedah kedokteran pesisir” sebagai keunggulan utama program tersebut. Konsep ini dirancang agar dokter spesialis yang dihasilkan mampu beradaptasi dengan tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan.
Ia juga mengajak pemerintah daerah untuk berperan aktif mendukung program tersebut, salah satunya melalui pengiriman dokter umum terbaik untuk melanjutkan pendidikan spesialis di UHO.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Aris Badara, menyebut program ini sejalan dengan visi pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan.
“Pemerintah provinsi sangat mengapresiasi dibukanya PPDS Ilmu Bedah ini. Kami siap memberikan dukungan sesuai kewenangan agar program ini berjalan dengan baik,” katanya.
Aris menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci dalam pengembangan pendidikan dokter spesialis di Sultra. Ke depan, pemerintah berharap UHO dapat membuka lebih banyak program spesialis sesuai kebutuhan daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Andi Edy Surahmat, mengakui pemerataan dokter spesialis masih menjadi tantangan besar di daerahnya. Banyak fasilitas kesehatan di kabupaten dan kota belum memiliki tenaga spesialis yang memadai.
“Program ini menjadi solusi nyata bagi daerah. Kami berharap ke depan tidak lagi kesulitan mencari dokter spesialis,” ujarnya.
Ia berharap lulusan PPDS Ilmu Bedah nantinya dapat kembali mengabdi di daerah asal masing-masing sehingga pemerataan layanan kesehatan benar-benar terwujud.
Dekan Fakultas Kedokteran UHO, I Putu Sudayasa, menjelaskan pembukaan program tersebut merupakan bagian dari implementasi kebijakan nasional dalam penguatan sistem kesehatan akademik.
Menurutnya, pemerintah pusat mendorong perguruan tinggi di kawasan Indonesia Timur untuk aktif mencetak dokter spesialis guna mengatasi ketimpangan distribusi tenaga medis.
“Distribusi dokter di Indonesia masih belum merata, khususnya di wilayah timur. Karena itu, pembukaan program spesialis di daerah menjadi langkah strategis,” jelasnya.
Pada tahap awal, PPDS Ilmu Bedah UHO membuka kuota terbatas, maksimal tiga peserta. Pembatasan itu dilakukan untuk menjaga kualitas pendidikan, baik dari sisi teori maupun praktik klinis.
UHO juga masih menunggu penyelesaian administrasi, termasuk penerbitan Surat Keputusan operasional dari kementerian terkait. Jika seluruh proses rampung, penerimaan mahasiswa baru ditargetkan dimulai pada Maret 2026.
Dari sisi fasilitas, program ini telah melalui evaluasi dan dinyatakan layak oleh tim penilai kementerian. Rumah sakit pendidikan utama yang digunakan adalah RSUD Bahteramas dan RSUD Kota Kendari.
Kedua rumah sakit tersebut dinilai memiliki fasilitas memadai serta didukung dokter spesialis dan subspesialis berpengalaman, sehingga mampu memberikan pengalaman klinis komprehensif bagi peserta didik.
Salah satu keunggulan utama PPDS Ilmu Bedah UHO adalah pendekatan berbasis wilayah pesisir dan kepulauan. Kurikulum tidak hanya menitikberatkan aspek klinis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial masyarakat setempat.
Pendekatan itu dinilai penting mengingat tantangan pelayanan kesehatan di wilayah pesisir berbeda dengan daerah perkotaan, mulai dari akses transportasi, keterbatasan fasilitas, hingga kondisi lingkungan.
Kehadiran PPDS Ilmu Bedah di UHO pun membawa harapan besar bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Selain meningkatkan kualitas layanan kesehatan, program ini juga memperkuat kemandirian daerah dalam penyediaan tenaga medis spesialis.
Dengan semakin banyak dokter spesialis yang dihasilkan, masyarakat diharapkan tidak lagi bergantung pada daerah lain untuk mendapatkan layanan kesehatan lanjutan. Program ini juga membuka peluang bagi generasi muda Sultra untuk berkembang dan berkontribusi langsung bagi pembangunan daerahnya. ** (Adv)
Editor: Hasrul Tamrin











