/*
Breaking News
*/
Opini

Tunuha, Dari Tanah Muna untuk Warisan Budaya Dunia

44
×

Tunuha, Dari Tanah Muna untuk Warisan Budaya Dunia

Sebarkan artikel ini
Tunuha. (Dok. Novrizal R.Topa)

Oleh: Novrizal R.Topa
(Anggota PWI Sulawesi Tenggara)

KR/MUNA – Di berbagai belahan dunia, manusia mengenal cara memasak yang hampir serupa meski dipisahkan oleh lautan, benua, bahasa, dan zaman. Masyarakat pegunungan Papua mengenalnya sebagai Bakar Batu. Suku Māori di Selandia Baru menyebutnya Hāngi. Masyarakat Badui di gurun Arab memiliki tradisi Zarb, sementara di Oman dikenal Shuwa. Di Pegunungan Andes, Peru, terdapat Pachamanca.

Masing-masing memiliki nama yang berbeda, tetapi semuanya bertumpu pada satu prinsip yang sama: memanfaatkan panas batu dan tanah untuk mengolah makanan sekaligus merawat kebersamaan.

Di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, saya menemukan jejak kearifan yang memiliki semangat serupa, namanya Tunuha.

Masih lekat dalam ingatan saya suasana penuh keakraban di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, pada November 2019 silam. Saat itu saya berkesempatan mengikuti langsung tradisi Tunuha, sebuah warisan budaya yang bukan sekadar cara memasak singkong, melainkan juga ruang tempat masyarakat merawat persaudaraan dan mensyukuri anugerah hasil panen.

Tradisi Turun-Temurun yang Tetap Hidup

Bagi masyarakat Muna, Tunuha bukan sekadar makanan tradisional. Ia merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tradisi ini tetap bertahan. Anak-anak, pemuda, orang tua, hingga para sesepuh desa terlibat dalam setiap prosesnya. Tidak ada sekat sosial. Semua mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Saya menyaksikan bagaimana masyarakat berkumpul bukan karena undangan resmi atau kewajiban adat semata, tetapi karena mereka merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.

Baca Juga :  Simpang Jalan Rumah Baca di Era Digital

Gotong Royong Sebelum Api Dinyalakan

Sejak siang hari, aktivitas mulai terlihat di berbagai sudut desa. Para perempuan duduk berkelompok menyiapkan adonan berbahan dasar singkong yang dicampur dengan bahan-bahan alami.

Adonan tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun pisang berbentuk piramida kecil atau dimasukkan ke dalam ruas-ruas bambu yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Di tempat lain, para laki-laki sibuk mengumpulkan kayu bakar, menyusun batu-batu besar, dan menyiapkan lubang tanah yang akan menjadi “dapur” tradisional malam itu.

Tidak ada instruksi tertulis. Tidak ada pula pembagian tugas formal. Semua bergerak secara alami karena telah memahami peran masing-masing dari pengalaman yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka.
Ketika matahari mulai condong ke barat, kayu bakar dinyalakan. Api perlahan membesar, membakar kayu dan memanaskan batu-batu hingga memerah. Dari sinilah perjalanan panjang Tunuha dimulai.

Api, Batu, dan Kesabaran

Setelah batu mencapai suhu yang diinginkan, bambu-bambu berisi adonan singkong dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan.

Kemudian seluruhnya ditutup dengan batu panas, daun pisang, dan lapisan tanah. Tidak boleh ada celah udara yang masuk. Proses inilah yang menciptakan cita rasa khas Tunuha yang tidak mungkin diperoleh melalui cara memasak modern.
Yang menarik, masyarakat tidak menunggu selama satu atau dua jam. Mereka menunggu hingga delapan jam.

Di era serba instan saat ini, kesabaran semacam itu menjadi sesuatu yang langka. Namun bagi masyarakat Muna, waktu bukanlah hal yang harus dikejar. Justru dalam penantian itulah kebersamaan tumbuh.

Baca Juga :  Refleksi HUT Sultra ke-61: Ketahanan Pangan, Tambang dan Hutan kita

Malam yang Penuh Kehangatan

Saat malam tiba dan bara api mulai meredup, tidak seorang pun beranjak pulang.
Masyarakat tetap berkumpul mengelilingi lokasi pembakaran. Mereka bercengkerama, berbagi cerita, dan menikmati suasana malam bersama.

Di sinilah saya menyaksikan salah satu kekayaan budaya Muna yang paling memikat: Modero.

Laki-laki dan perempuan saling berbalas syair dan pantun dalam bahasa Muna. Ada canda, nasihat, harapan, bahkan ungkapan perasaan yang disampaikan dengan indah melalui nyanyian.

Suara tawa bersahut-sahutan di bawah langit malam. Cahaya bara yang tersisa menerangi wajah-wajah yang tampak bahagia.

Pada saat itu saya menyadari bahwa Tunuha sesungguhnya bukan hanya tentang makanan. Tunuha adalah media yang mempertemukan manusia dengan sesamanya.

Ketika Muna Menjadi Bagian dari Kisah Dunia

Pengalaman tersebut membuat saya teringat bahwa tradisi serupa ternyata juga hidup di berbagai penjuru dunia.

Di Papua, masyarakat melakukan Bakar Batu untuk merayakan kelahiran, pernikahan, dan perdamaian. Di Selandia Baru, suku Māori menggunakan Hāngi untuk mempererat hubungan keluarga dan komunitas. Di gurun Arab, masyarakat Badui menghidangkan Zarb dalam perjamuan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.

Meski lahir dari lingkungan yang berbeda, semuanya memiliki pesan yang sama: makanan adalah sarana membangun hubungan antarmanusia.

Tunuha menunjukkan bahwa masyarakat Muna telah lama mengenal filosofi tersebut. Bahwa hasil panen tidak hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk dibagikan. Bahwa kebahagiaan menjadi lebih bermakna ketika dirasakan bersama.

Pagi yang Dinanti

Ketika fajar mulai menyingsing, suasana desa kembali hidup. Tanah yang semalaman menutupi Tunuha dibuka perlahan. Bambu-bambu diangkat satu per satu. Aroma khas singkong yang matang bersama panas batu dan daun pisang segera memenuhi udara. Wajah-wajah yang sejak malam berjaga kini dipenuhi rasa puas dan antusias.

Baca Juga :  Resolusi 2026: Politik Kehadiran Untuk Kemaslahatan

Tunuha kemudian disajikan dan dinikmati bersama-sama. Tidak ada kemewahan di sana. Hanya singkong, bambu, daun pisang, dan kebersamaan.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan kekayaan yang tak ternilai.

Lebih dari Sekadar Kudapan

Bagi masyarakat Muna, Tunuha adalah ungkapan syukur atas hasil panen yang diberikan Tuhan.

Bagi saya pribadi, Tunuha adalah pelajaran tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus membuat kita melupakan akar budaya. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi fondasi yang menjaga identitas suatu bangsa di tengah perubahan zaman.

Dari Desa Liangkobori, saya belajar bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang harus dikenang, melainkan sesuatu yang harus dirawat dan diwariskan.

Sebab yang dipertahankan dalam Tunuha bukan sekadar resep atau teknik memasak. Yang dijaga adalah nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan persaudaraan yang menjadi ruh kehidupan masyarakat Muna.

Dan ketika saya mengingat kembali malam penuh Modero, cahaya api, serta aroma Tunuha yang baru matang saat fajar menyingsing, saya semakin yakin bahwa tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Muna.

Ia adalah bagian dari cerita besar tentang bagaimana manusia, di mana pun berada, selalu menemukan cara untuk berkumpul, berbagi, dan merayakan kehidupan bersama. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!