/*
Breaking News
*/
Muna

Lukisan di Liang Metanduno Menjadi yang Tertua di Dunia, Fadli Zon: Bakal Jadi Cagar Budaya Nasional

184
×

Lukisan di Liang Metanduno Menjadi yang Tertua di Dunia, Fadli Zon: Bakal Jadi Cagar Budaya Nasional

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon saat menghadiri dan membuka festival Liangkobori dengan pemukulan gong, Foto : LM Nur Alim.

KOLOMRAKYAT.COM: MUNA – Lukisan purba di Liang Metanduno yang bertempat di Desa Liangkabori Kecamatan Lohia Kabupaten Muna, merupakan lukisan yang tertua di dunia dan bakal ditetapkan menjadi cagar budaya nasional.

Kabupaten Muna dianugerahi bentang alam kars yang sangat luar biasa dan dikawasan inilah terdapat ribuan lukisan cadas dalam gua, ceruk dan tebing yang menjadi saksi perjalanan manusia sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Selama hampir lima dekade Kawasan ini terus diteliti oleh para arkeolog antara lain Pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Balai Arkeolog Makassar, Universitas Gajah Mada, Universitas Halu Oleo, BRIN, Griffith University Australia, Institut Seni Budaya Indonesia Bandung serta berbagai penelitian nasional dan internasional dan sampai tahun 2025 telah ditemukan 66 gua, ceruk dan tebing bergambar yang telah terdokumentasi mencapai lebih dari 1.900 motif.

Namun, di akhir tahun 2025 menjadi tonggak sejarah yang mengubah posisi Pulau Muna dalam peta arkeologi dunia, melalui penelitian kolaborasi ilmiah antara BRIN bersama Griffith University Australia dan para peneliti internasional, dua cap tangan negatif di Gua Metanduno berhasil ditentukan usianya menggunakan metode penanggalan uranium-thorium dengan umur minimum 67.800 tahun.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengatakan, bahwa Liang Metanduno dan Liang Kabori merupakan situs yang luar biasa dan pada 22 Januari 2026, telah diumumkan serta telah dipublikasikan hasil penelitian dari berbagai peneliti lintas perguruan tinggi didalam dan luar negeri, BRIN, Griffith University, dan didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan dan sudah dicatatkan dalam Guinness World Records 2026 sebagai the world’s oldest painting atau lukisan tertua didunia dalam kategori seni non konfiguratif.

Baca Juga :  Harga Bahan Pokok Naik Menjelang Bulan Ramadan, Pemda Muna Persiapkan Pasar Murah

“Banyak gambar mengisahkan kehidupan dimasa lalu seperti, gambar binatang, gambar perahu, gambar layang-layang dan gambar aktifitas-aktifitas berburu dan sebagainya yang terdapat didalam gua metanduno maupun gua Liangkabori yang telah diuji secara saintifit melalui uranium series bahwa sampel gambar di liang metanduno menjadi lukisan tertua didunia dengan usia 67.800 tahun bahkan lebih dari itu,” kata Fadli Zon saat menghadiri dan membuka festival Liangkobori, Sabtu (11/7/2026).

Dia menyampaikan, bahwa gua liang metanduno merupakan sebuah gambar yang luar biasa sudah dilihatnya sendiri, yang secara fisik dengan bidang pigmen berukuran sekitar 10 cm sampai 14 cm yang bisa mengubah kekuatan peta sejarah manusia.

“Ini adalah rekor baru setelah sebelumnya, lukisan cadas yang ada di Maros pangkep di Leang karampuang berusia 51.200 tahun dan sudah dipublikasikan sebelumnya melalui seni gua dunia seperti diprancis yang berusia 30.000 sampai 32.000 tahun, di Alkamira berusia 14.000 sampai 20.000 tahun, di lasko Prancis sekitar 17.000 tahun dan berbagai wilayah di Afrika seperti Afrika Selatan sekitar 5.000 sampai 10.000 tahun,” terangnya.

Fadli Zon menyebutkan bahwa liang metanduno ini, telah melewati semua usia dengan perkiraan sekitar 2.700 generasi manusia dengan menyimpan banyak misteri yang tersembunyi untuk dikaji lagi lebih dalam karena merupakan satu ekspresi budaya tertua di dunia.

Baca Juga :  Bachrun Labuta Siap Mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan Bacalon Bupati di DPP PKB

“Ini bisa mengubah peta teori-teori yang ada, selalu teori yang selalu dipercaya sebagai pegangan walaupun ini masih dalam perdebatan yang biasa dikenal Teori Out of Africa bahwa manusia itu berasal dari Afrika kemudian berjalan ke eropa, ke asia kemudian ke Nusantara. Tetapi bisa saja terjadi, dari Nusantara atau dari Sulawesi sini, mungkin dari Kepulauan muna ini justru yang bermigrasi ke berbagai wilayah yang lain. Ini satu tantangan dari peneliti kita,” bebernya.

Menurutnya, pusat peradaban manusia modern yang disebut homo Sapiens seperti manusia cerdas, banyak terdapat bukti di Nusantara seperti bukti kuat dari lukisan purba yang ada di liang metanduno yang memiliki peradaban lebih tua dari negara lain di dunia ini seperti Cina, India, dan eropa dalam hal bukti-bukti arkeologis manusia modern dengan lukisan cadas yang jumlahnya cukup banyak.

“Temuan yang telah didapatkan, berharap tidak akan berhenti, akan terus menjadi aset negara yang akan dikenal bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Dia menyatakan, bahwa kementerian kebudayaan, akan bekerja sama dengan pemerintah propinsi dan Kabupaten untuk bisa menyelenggarakan ivent festival Liangkobori tahun depan lebih besar dari tahun ini.

“Kedepan festival Liangkobori harus bisa mengundang para duta besar, negara sahabat, para peneliti dari berbagai negara untuk datang ke kepulauan Muna untuk melihat dan melakukan penelitian, tapi dengan catatan, kita harus menjaga situsnya jangan sampai rusak,” ujarnya.

Baca Juga :  Resmi Dilantik, Ketua BAZNAS Muna Upayakan Bergerak Cepat Bentuk UPZ di Setiap OPD hingga Desa

Fadli Zon menyatakan, bahwa baru saja tim ahli cagar budaya nasional telah melakukan kajian dan telah merekomendasikan situs liang metanduno menjadi cagar budaya peringkat nasional.

“Tinggal kita umumkan nanti diawal bulan Agustus bahwa gua metanduno menjadi cagar budaya nasional dan berikutnya nanti gua Liangkabori mudah-mudahan bisa tahun ini juga,” ucapnya.

Selanjutnya, kata Fadli, akan mencalonkan kawasan seni budaya cadas pra sejarah Muna liang metanduno sebagai situs kunci daftar warisan dunia UNESCO. Ini perlu kita gagas dan rintis.

“Termaksud caga budaya nasional, penyusunan base land konservasi, dokumentasi dijital dan pengembangan pusat riset dari liang metanduno,” tambahnya.

Sementara Bupati Muna Bachrun Labuta dalam sambutannya mengatakan, semoga ikhtiar yang dilakukan mengadakan festival Liangkobori ini menjadi amal kebajikan, memperkuat persatuan bangsa, membawa manfaat bagi masyarakat dan menjadi warisan yang akan terus dikenang oleh generasi yang akan datang.

“Dari tanah Muna, Kami menitipkan harapan kepada Negara. Mari kita jaga Liangkobori bukan hanya sebagai kebanggaan Kabupaten Muna, tetapi sebagai warisan peradaban Indonesia yang akan terus bercerita kepada dunia, bahwa di tanah ini pernah tumbuh sebuah peradaban yang patut dihormati, dilestarikan, dan diwariskan sepanjang masa”, cetusnya.

Laporan : LM Nur Alim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!