KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Aris Badara, menyampaikan serangkaian langkah besar yang akan mengubah wajah pendidikan di Sulawesi Tenggara pada Tahun 2026 ini.
Tak hanya jadi pengelola anggaran terbesar dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Dikbud Sultra bahkan meraih prestasi kedua se-Indonesia dalam mendukung program digitalisasi nasional setelah Jawa Barat.
“Alhamdulillah dari sisi keuangan di tengah proses efisiensi anggaran, tahun ini cukup menggembirakan. Mungkin Bapak Ibu tahu bahwa pada efisiensi ini Dikbud Sultra mengelola anggaran paling besar dari 10 OPD yang ada. Tentu ini bukan tantangan yang mudah kita selesaikan,” ungkap Aris Badara, didampingi para kepala bidang, saat memaparkan program di hadapan wartawan dan Kepala Cabang Dinas serta Kepala SMA, SMK, dan SMAS se- Sultra sebelum Rapat Koordinasi di Aula Diknas, Senin (5/1/2026), kemarin.
* Sekolah Garuda: Provinsi Sultra Dapat Porsi Terbesar
Kepala Dinas bergelar Profesor ini mengungkapkan bahwa bukan omong kosong saja – tahun ini Pemprov Sultra berhasil meraih porsi anggaran paling besar di seluruh Indonesia untuk pembangunan fisik Sekolah Garuda dari empat program sekolah garuda pemerintah pusat.
“Sekolah Garuda ini setara dengan SMA Taruna Nusantara lho. Dulu saya bahkan berjuang setelah mendapatkan perintah gubernur, kalau tidak dapat harus turun jabatan, tapi alhamdulillah kita bisa dapatkan,” ujar Aris dengan bangga.
Paling membanggakan lagi, lanjut dia, khusus program SMK tahun ini sudah mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menjadi pemasok berbagai komoditi. Tahun ini empat SMK yang sudah memasok komponen kebutuhan MBG baik dari sektor agribisnis, perikanan, maupun tata boga.
“Ke depan kami ingin SMK di Sultra bisa mendukung atau pemasok kebutuhan MBG hingga 70 persen kebutuhan pangan untuk program MBG,” kata Aris Badara saat pertemuan itu.
Selain itu, Dikbud Sultra juga telah merencanakan membangun dan membentuk tiga sekolah unggulan baru: SMA 12 Kendari (dengan lahan 4 hektar), SMA 7 Baubau, dan salah satu sekolah di Kolaka yang mendapatkan anggaran proyek strategis daerah hingga 7 miliar rupiah.
* SMK Se- Sultra: Dukung MBG Sampai 70 Persen dan Siap Go Internasional
Para siswa SMK Sultra bukan hanya cakap di kelas, tapi juga jadi “pahlawan makanan” daerah. Empat SMK telah tergabung dalam jaringan yang mampu menyumbang hingga 70% komoditi untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Lebih hebatnya lagi, empat SMK sudah siap bersaing di kancah internasional dengan fokus pada nautika, teknik biologi, industri kreatif, dan teknologi informasi.
Bahkan, sekolah didorong untuk membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar bisa mandiri secara finansial. Saat ini sudah ada 13 sekolah yang bertransformasi, targetnya 25 unit..
“Melalui BLUD, SMK tidak lagi hanya bergantung pada APBD tetapi bisa memiliki usaha sendiri. Hal ini juga menjadi upaya kami meminimalisir pungutan di sekolah karena sekolah sudah mampu menghasilkan pendapatan secara mandiri,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekurangan guru produktif yang sering jadi momok, Dikbud Sultra akan menambah 20 guru baru melalui kerja sama dengan Universitas Negeri Makassar.
Tak mau ketinggalan, SMA di Sultra juga akan dibekali untuk menghasilkan alumni yang bisa masuk perguruan tinggi terbaik dunia.
“Dikbud Sultra akan bekerja sama dengan UPT Bahasa Universitas Halu Oleo (UHO) untuk melatih kemampuan bahasa dan persiapan akademik. Beasiswa dari LPDP dan berbagai lembaga besar juga akan difasilitasi agar anak-anak Sultra bisa meraih mimpi kuliah ke luar negeri,” jelas Aris Badara.
* SLB Jadi Prioritas: 48 Unit Ajukan Revitalisasi
Tak hanya sekolah umum, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) juga jadi fokus. Tahun ini, sebanyak 48 Sekolah Luar Biasa (SLB) diajukan untuk mendapatkan dana revitalisasi dari pusat – jauh lebih banyak dari tahun lalu yang hanya 20 unit. “Kita juga akan bikin pusat layanan optik dan menampung guru khusus agar anak-anak ABK bisa mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa stigma dari masyarakat,” jelas Aris.
Untuk mengubah paradigma masyarakat tentang SLB, akan ada program khusus yang mengangkat prestasi anak-anak berkebutuhan khusus dan membuktikan bahwa mereka punya potensi luar biasa.
Editor: Hasrul Tamrin











