/*
Breaking News
*/
Kampus

Tiga Dosen STIE Enam Enam Kendari Raih Pendanaan Nasional, Angkat Isu UMKM hingga Warisan Budaya Sultra

15
×

Tiga Dosen STIE Enam Enam Kendari Raih Pendanaan Nasional, Angkat Isu UMKM hingga Warisan Budaya Sultra

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ist/KR)

KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Tiga dosen STIE Enam Enam Kendari menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah berhasil memperoleh pendanaan dari dua program pemerintah pada Tahun 2026 ini.

Pendanaan tersebut berasal dari program penelitian melalui BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Ketiga dosen tersebut yakni Dr. Astil Harli Roslan, S.E., M.M., Asrul Jabani, S.E., M.E., dan Intan Aprilianiswah B., S.Ak., M.M., C.F., C.Ftax.

Menariknya, proposal yang mereka usung tidak hanya berkutat pada persoalan akademik, tetapi juga menyentuh isu strategis dan potensi lokal Sulawesi Tenggara, mulai dari transformasi hijau UMKM, ekonomi sirkular, digitalisasi usaha, perpajakan hingga pelestarian pengetahuan dan warisan budaya.

Capaian tersebut sekaligus menambah deretan prestasi STIE Enam Enam Kendari dalam memperkuat mutu akademik dan kelembagaan.

Sebelumnya, kampus tersebut juga mencatatkan keberhasilan dua program studi yang meraih akreditasi Unggul, yakni Program Studi Magister Manajemen dan S1 Manajemen.

Dr. Astil Harli Roslan memperoleh pendanaan BIMA dengan fokus penelitian pada transformasi hijau UMKM, pemanfaatan sumber daya sekunder, dan penguatan ekonomi sirkular.

Baca Juga :  Punya Banyak Keunggulan, Institut Kesehatan dan Teknologi Bisnis Menara Bunda Kolaka Buka Penerimaan Mahasiswa Baru

Sementara melalui Dana Indonesia Raya, Astil mengangkat Bapongka masyarakat Bajo Wakatobi sebagai pengetahuan maritim adaptif yang dinilai penting untuk dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Adapun Asrul Jabani mendapatkan pendanaan BIMA untuk mengkaji digitalisasi UMKM di Kota Kendari, khususnya dalam mendorong kemudahan transaksi dan memperluas akses pasar.

Melalui Dana Indonesia Raya, Asrul mengangkat Kacucung Dua, warisan hidup masyarakat Burangasi yang berkaitan dengan penguatan identitas serta keberlanjutan budaya masyarakat diaspora.

Sedangkan Intan Aprilianiswah B. memperoleh pendanaan BIMA melalui penelitian mengenai implementasi Coretax, kepercayaan, dan kepatuhan wajib pajak di Sulawesi Tenggara.
Pada program Dana Indonesia Raya, Intan mendapat dukungan dalam kategori Pendayagunaan Ruang Publik dengan mengangkat warisan budaya Kesultanan Buton di Kota Baubau.

Dr. Astil Harli Roslan mengatakan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa dosen memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan akademik, ekonomi, sosial hingga kebudayaan di daerah.

Baca Juga :  Pj Wali Kota Kendari Bicara Kolaborasi Pemerintah dan Perguruan Tinggi Akselerasi Kemiskinan di Universitas Lakidende

“Tema yang kami angkat berbeda-beda, tetapi semuanya berangkat dari potensi dan persoalan nyata di Sulawesi Tenggara. Ada UMKM, transformasi hijau, digitalisasi, perpajakan, masyarakat pesisir, dan warisan budaya. Ini menunjukkan bahwa ruang penelitian dan kebudayaan di daerah kita sangat luas,” kata Astil, Kamis (27/8/2026).

Dosen yang tumbuh dan besar di Kabupaten Wakatobi itu menilai, capaian tersebut juga sejalan dengan upaya STIE Enam Enam Kendari dalam memperkuat kualitas akademik sekaligus meningkatkan kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh pendanaan bukan menjadi tujuan akhir.

“Yang paling penting bukan hanya memperoleh pendanaan, tetapi bagaimana kegiatan itu dilaksanakan dengan baik, menghasilkan pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat,” ujarnya.

* Dorong Dosen dan Mahasiswa Lebih Aktif

Astil berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi pemantik bagi dosen dan mahasiswa STIE Enam Enam Kendari untuk semakin aktif mengikuti program penelitian, pengabdian kepada masyarakat maupun program kebudayaan.

“Kami berharap ini menjadi motivasi bersama. Perguruan tinggi harus hadir melalui riset dan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan daerah sekaligus ikut menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara,” katanya.

Baca Juga :  AMM Segel Kantor Rektor UMK, Tuding Melakukan Praktik Nepotisme Merajalela

Menurut Astil, keberhasilan tiga dosen tersebut bukan sekadar tambahan daftar prestasi kampus. Lebih dari itu, capaian tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi STIE Enam Enam Kendari dalam memperbesar dampak institusi melalui riset dan kontribusi nyata.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Spiraling-Up Institutional Impact, yakni menjadikan setiap prestasi, riset, dan kontribusi dosen sebagai energi untuk memperluas dampak serta meningkatkan reputasi institusi.

Dari ekonomi sirkular, digitalisasi UMKM, perpajakan digital hingga pelestarian warisan budaya Sulawesi Tenggara, capaian tiga dosen tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset sekaligus memperluas jejaring akademik.

STIE Enam Enam Kendari pun terus mendorong agar kekuatan akademik yang lahir dari persoalan dan potensi daerah dapat berkembang menjadi kontribusi yang lebih luas, termasuk dalam mewujudkan visi pengakuan institusi di kawasan Asia Tenggara pada 2032.

 

 

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!