Muna Raya

Wakili Indonesia pada Acara Rare di Filipina, Plt Bupati Muna Paparkan Strategi Local Atasi Isu Global

161
×

Wakili Indonesia pada Acara Rare di Filipina, Plt Bupati Muna Paparkan Strategi Local Atasi Isu Global

Sebarkan artikel ini
Plt Bupati Muna Bachrun Labuta (kemeja putih) saat melakukan diskusi di kegiatan RARE yang berlangsung di Negara Filipina. (Foto : IST/KR)

KOLOMRAKYAT.COM: MUNA – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Muna Bachrun Labuta hadir mengikuti acara RARE bersama para kepala daerah walikota dan bupati pesisir yang tergabung dalam Kemitraan Bupati/Walikota Pesisir Dunia, COASTAL 500 dalam diskusi kebijakan nasional dan kebijakan regional yang berkontribusi terhadap komitmen Indonesia terhadap global, yang dilangsungkan di Negara Filipina, Kamis (30 Mei 2024).

Acara ini dihadiri oleh 13 pemimpin daerah/ walikota dari 7 negara, dari Indonesia diwakili oleh Plt. Bupati Muna Bachrun Labuta, serta delegasi lainnya dari negara Honduras, Brazil, Guatemala, Mozambik, Palau Filipina.

Dalam pertemuan itu, membahas tentang strategi para pemimpin daerah dalam mengatasi isu-isu global dengan menerapkan strategi local di masing-masing daerahnya.

Ada tiga isu yang menjadi fokus diskusi dalam acara ini, yaitu adaptasi perubahan iklim, Other Effective (Area Based) conversation measures atau di Indonesia dikenal dengan kawasan pengelolaan perairan yang memberikan dampak konversasi dengan target nasional 30 persen kawasan yang di lindungi pada tahun 2045, serta diskusi tentang  global biodiversity frame work.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Muna, Muhammad Haidar, menyampaikan bahwa Plt Bupati Muna  Bachrun Labuta dalam acara diskusi itu memaparkan tentang kondisi daerah dan masyarakat Muna dalam melakukan tindakan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Menurut Bachrun, kondisi cuaca yang tidak menentu memberi dampak pada sulitnya dan semakin jauh melakukan kegiatan perikanan bagi nelayan kecil. Hal ini cenderung membahayakan keselamatan mereka di laut.

“Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Pak Plt Bupati untuk menyampaikan langsung kondisi daerah dan kondisi lingkungan, seperti yang sering dihadapi dan dialami masyarakat nelayan Muna,” kata Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Muna, Muhammad Haidar, menyampaikan apa yang dilakukan oleh Plt Bupati di Filipina, dalam keterangan persnya yang diterima awak media ini, Jumat (31/5/2024).

Kata Bupati, lanjut Haidar, kondisi cuaca yang tidak menentu itu tidak hanya memberi dampak hasil tangkap nelayan kecil, tetapi hal itu juga cenderung membahayakan keselamatan mereka di laut. Hasil tangkapan yang semakin berkurang dan biaya operasinal kegiatan yang terkadang tidak memenuhi biaya operasional yang telah dikeluarkan.

Dia melanjutkan, seperti pelaksanaan program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) di Muna adalah contoh nyata melakukan tindakan adaptasi berbasis terhadap perubahan iklim bagi nelayan skala kecil.

“Program ini menerapkan adaptasi berbasis Ekosistem (Ecosystem Based Adaptation)  juga sekaligus adaptasi yang berbasis komunitas (Community Adptation Based),” tuturnya.

Haidar menjelaskan penyampaian Plt Bupati bahwa masyarakat nelayan di Muna diberikan berbagai penguatan kapasitas untuk menjamin peran masyarakat pesisir dalam pengambilan keputusan secara kolektif dan memperkuat tata kelola sumber daya perikanan di tingkat lokal.

“Program PAAP ini dapat menjamin keberlangsungan sumberdaya perikanan dan konservasi ekosistem laut, namun pada saat bersamaan juga memberikan jaminan penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi nelayan skala kecil,” ungkapnya.

“Hal ini dapat dipastikan bahwa nelayan kecil dapat melakukan kegiatan penangkapan tidak jauh dari rumah mereka, kepastian keamanan terjamin dan hasil tangkapan yang bisa memenuhi kebutuhan keluarganya,” sambungnya.

Dikatakan Haidar, membahas tentang Global Biodiversity Framework atau yang disebut Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati, Plt Bupati Muna kembali mencontohkan potensi yang dimiliki daerahnya yakni kawasan mangrove yang sangat luas.

“Kabupaten Muna memiliki hutan mangrove  sebesar 27.204,55 ha, sekitar 22.175,47 ha kondisi baik dan sisanya 5.029,08 ha kondisi rusak. Mangrove di Kabupaten ini adalah merupakan rumah bagi aneka ragam hayati (aneka ragam ikan, buaya, burung, kepiting) dan disisi lain menjadi ekosistim sebagai  tempat perlindungan terhadap ancaman bencana, seperti angin kencang pada musim-musinm tertentu,” terangnya.

Dia menyebut, salah satu strategi Pembangunan kabupaten Muna untuk berkontribusi pada kerangka kerja keanekaragaman hayati adalah dengan berupaya menerapkan kebijakan tentang penduan pemanfaatan hutan mangrove.

“Beliau juga menyampaikan beberapa usulan program unggulan untuk adaptasi perubahan iklim termasuk memperkenalkan budidaya udang yang berkelanjutan serta mendorong rehabilitasi mengrove yang telah rusak dan melakukan perlindungan hutan mangrove yang masih tersisa,” tutup Haidar.

Laporan: LM Nur Alim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!