KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino di Sulawesi Tenggara. Sejak akhir Juli 2026, BWS telah membentuk satuan tugas (Satgas) khusus untuk membantu penanganan kekeringan, terutama di wilayah sentra pertanian yang mengalami kekeringan.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari, Muhammad Harliansyah, S.T., M.T. mengatakan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri PUPR dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air setelah BMKG menetapkan fenomena El Nino berada pada kategori sangat kuat.
“Sejak akhir Juli kami sudah turun melakukan penanganan di daerah-daerah yang terdampak kekeringan, khususnya lahan padi yang siap panen. Kami juga telah membentuk Satgas untuk membantu kabupaten-kabupaten yang membutuhkan penanganan,” ujarnya, kepada awak media usai mengikuti Apel Siaga dan Simulasi Penanganan Bencana Karhutla dan Kekeringan di Halaman Kantor Gubernur, Rabu (26/8/2026).
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya mengakui luasnya wilayah terdampak menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan peralatan dan personel masih menjadi kendala utama dalam upaya penanganan di lapangan.
“Kekeringan ini cakupannya sangat luas. Kami memiliki keterbatasan peralatan dan personel, sehingga kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak, baik untuk peralatan maupun operasional di lapangan,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat, BWS Sulawesi IV juga membantu kebutuhan operasional petani. Di Muna Barat, misalnya, petani memiliki pompa air namun terkendala biaya bahan bakar, sehingga BWS memberikan bantuan BBM agar pompa dapat digunakan.
Sementara di wilayah Labulu Bulu, Kabupaten Muna, BWS memasang sekitar 500 meter pipa PVC untuk mengalirkan air dari sumber yang lokasinya cukup jauh menuju area pertanian yang mengalami kekeringan..
“Meski demikian, untuk penanganan kekeringan akan terus dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah agar dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian di Sulawesi Tenggara dapat diminimalkan, terutama menjelang musim panen,” pungkasnya.
Laporan: Hasrul Tamrin











