KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Kabar baik bagi masyarakat Kota Kendari. Perkembangan harga barang dan jasa pada Oktober 2026 menunjukkan penurunan secara bulanan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari, daerah ini mengalami deflasi sebesar 0,14 persen dibandingkan September 2026.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan harga kebutuhan sehari-hari. Sebab, secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi Kota Kendari masih tercatat sebesar 4,47 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 4,15 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Kendari, Sultriawati Efendi, S.P., M.S., dalam kegiatan Rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Inflasi Kota Kendari Oktober 2026 yang berlangsung di Aula Rapat Lantai II Kantor BPS Kota Kendari, Senin (2/11/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Kendari, Dr. Ir. Nismawati, M.Si., sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi pemerintah daerah dalam memantau perkembangan harga barang dan jasa.
Dalam arahannya, Nismawati menegaskan bahwa pemantauan harga kebutuhan masyarakat merupakan hal penting untuk menjaga stabilitas perekonomian daerah.
Menurutnya, data IHK dan inflasi tidak sekadar menjadi angka statistik, tetapi juga menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Informasi mengenai perkembangan indeks harga konsumen dan inflasi menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, BPS, dan seluruh pemangku kepentingan agar upaya menjaga kestabilan harga dapat berjalan secara efektif.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Kendari, Sultriawati Efendi, menjelaskan bahwa deflasi Oktober 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
“Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi sebesar 1,32 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,14 persen,” ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 1,17 persen dengan andil 0,05 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,17 persen dengan andil 0,05 persen.
“Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,27 persen dengan andil 0,03 persen,” bebernya.
Namun, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga. Kelompok transportasi justru mencatat inflasi sebesar 0,77 persen dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,12 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen dengan andil 0,01 persen.
Sementara kelompok kesehatan mengalami inflasi 0,02 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,05 persen. Begitu pula kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang mengalami deflasi 0,02 persen.
Perbedaan pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa kondisi inflasi tidak selalu dirasakan secara sama oleh seluruh masyarakat. Ketika beberapa komoditas mengalami penurunan harga, kebutuhan lainnya masih berpotensi mengalami kenaikan.
Karena itu, deflasi bulanan perlu disikapi secara proporsional. Penurunan harga secara umum pada Oktober belum berarti seluruh kebutuhan rumah tangga menjadi lebih murah, terlebih inflasi tahunan masih berada pada angka 4,47 persen.
Pemerintah Kota Kendari diharapkan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui pemantauan harga pasar, koordinasi lintas sektor, serta menjaga kelancaran pasokan dan distribusi barang kebutuhan pokok.
Upaya tersebut menjadi penting agar stabilitas harga tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat melalui terjaganya daya beli dan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Editor: Hasrul Tamrin











