/*
Breaking News
*/
Kolom Sulawesi

Pemadaman Listrik Bergilir di Morowali Ancam Petani Hidroponik, Biaya Produksi Membengkak

99
×

Pemadaman Listrik Bergilir di Morowali Ancam Petani Hidroponik, Biaya Produksi Membengkak

Sebarkan artikel ini
(Foto: Ist/KR)
(Foto: Ist/KR)

KOLOMRAKYAT.COM: MOROWALI – Pemadaman listrik bergilir yang terus terjadi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mulai mengancam keberlangsungan usaha pertanian hidroponik. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan mempertahankan produksi, bahkan terancam mengalami kerugian akibat tanaman yang tidak mendapatkan pasokan air secara optimal.

Ketergantungan sistem hidroponik terhadap aliran listrik, terutama untuk mengoperasikan pompa dan sirkulasi air, membuat aktivitas pertanian ini sangat rentan ketika terjadi pemadaman dalam waktu lama.

Ketua Kelompok Tani Hidroponik Morowali, Ilham, mengungkapkan, pemadaman listrik yang berlangsung tanpa kepastian waktu telah menjadi persoalan serius bagi para petani.

Ia menjelaskan, sistem sirkulasi air merupakan salah satu komponen vital dalam pertanian hidroponik. Ketika listrik padam, pompa air tidak dapat beroperasi sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menyebabkan tanaman mati.

Baca Juga :  Memperkuat Kolaborasi Media untuk Keberlanjutan: PT Vale Indonesia Gelar Buka Puasa Bersama Jurnalis di Palu

“Pemadaman listrik yang tidak menentu ini membuat kami para petani hidroponik kesulitan luar biasa. Sistem sirkulasi air dari pompa yang bergantung pada listrik merupakan salah satu nyawa produksi pertanian hidroponik. Tanaman kami terancam mati setiap kali listrik padam dalam waktu lama,” ungkap Ilham, Minggu (1/11/2026).

Persoalan semakin kompleks karena pemadaman listrik terjadi bersamaan dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Morowali.

Ilham mengungkapkan, petani yang belum memiliki generator set (genset) terpaksa harus mengeluarkan modal tambahan untuk membeli peralatan tersebut sebagai sumber listrik alternatif.

“Sementara petani yang sudah memiliki genset justru dihadapkan pada kesulitan mendapatkan BBM untuk mengoperasikannya,” ujarnya.

Baca Juga :  Di Tengah Tekanan Global dan Dinamika Industri, PT Vale Catat Penjualan 2,2 Juta Ton Ore Nikel Pada Awal 2026 di Morowali

Situasi ini berdampak langsung terhadap peningkatan biaya operasional dan menekan keuntungan usaha tani.

“Biaya produksi kami melonjak drastis. Modal untuk membeli genset ditambah kesulitan mendapatkan BBM yang langka membuat keuntungan kami habis begitu saja. Kami merasa sangat terbebani dengan keadaan ini,” tambahnya.

Ilham menyayangkan belum adanya langkah konkret maupun penjelasan resmi dari Pemerintah Kabupaten Morowali dan instansi terkait mengenai solusi atas persoalan pemadaman listrik bergilir yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat, khususnya sektor pertanian.

Menurutnya, petani hidroponik membutuhkan kepastian pasokan listrik karena keberlangsungan produksi sangat bergantung pada sistem kelistrikan yang stabil.

Baca Juga :  Pentingnya Nutrisi bagi Buah Hati, Alfamidi Edukasi Keluarga Balita di Morowali

Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan tersebut.

Selain mencari solusi terhadap akar permasalahan pemadaman listrik, pemerintah juga diharapkan menjamin ketersediaan BBM dengan harga terjangkau serta memberikan perhatian dan dukungan kepada petani yang terdampak.

Ilham berharap persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Sebab, jika tidak segera ditangani, pemadaman listrik berkepanjangan berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar dan mengancam keberlangsungan usaha pertanian hidroponik di Morowali.

“Untuk itu kami meminta dan mengharapkan pemerintah bisa turun tangan menangani permasalahan ini demi keberlanjutan usaha dan kesejahteraan hidup masyarakat,” pungkasnya.

 

 

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!