KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Perusahaan asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), PT Mahkota Konaweeha, unjuk kemampuan dalam memperkenalkan produk nikel lokal di panggung perdagangan internasional Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 yang digelar di ICE BSD.
Keikutsertaan perusahaan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan produk nikel hasil produksi perusahaan sekaligus menunjukkan potensi industri daerah dalam mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Melalui stan pameran yang disiapkan, PT Mahkota Konaweeha memperkenalkan produk nikelnya kepada para pelaku usaha, pemangku kepentingan, dan pengunjung. Antusiasme pengunjung serta peluang transaksi yang muncul menjadi perhatian perusahaan dalam keikutsertaannya pada ajang perdagangan tersebut.
Direktur Utama PT Mahkota Konaweeha, Yan Sulaeman, mengatakan partisipasi dalam TEI 2026 bukan sekadar ajang promosi, melainkan kesempatan untuk membawa nama Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara agar semakin dikenal dalam peta industri pengolahan nikel nasional.
Menurut Yan, Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya nikel yang besar dan strategis bagi pengembangan industri nasional. Potensi tersebut perlu didukung kreativitas, inovasi, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan industri yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
“Bagi kami, ini merupakan kebanggaan tersendiri karena dapat memperkenalkan produk nikel yang diproduksi langsung oleh PT Mahkota Konaweeha kepada masyarakat luas, termasuk para pelaku usaha dan calon mitra bisnis,” katanya, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi, Senin (19/10/2026).
Momentum keikutsertaan PT Mahkota Konaweeha semakin istimewa dengan kunjungan Menteri Perdagangan Republik Indonesia ke stan perusahaan dalam rangkaian Trade Expo Indonesia ke-41 Tahun 2026.
Yan Sulaeman menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan tersebut. Ia menilai perhatian pemerintah terhadap produk dalam negeri menjadi dorongan positif bagi pelaku industri nasional untuk terus berinovasi, meningkatkan mutu produksi, serta memperluas jaringan pemasaran.
Kehadiran produk nikel asal Sulawesi Tenggara dalam pameran berskala internasional juga dinilai sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa perusahaan daerah memiliki kemampuan mengambil bagian dalam pengembangan industri nasional.
Yan berharap ajang seperti TEI dapat terus menjadi jembatan yang mempertemukan potensi produksi dalam negeri dengan kebutuhan pasar, sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
Partisipasi PT Mahkota Konaweeha sejalan dengan pentingnya pengembangan hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Melalui penguatan industri pengolahan, komoditas nikel diharapkan tidak hanya menjadi sumber daya tambang, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Bagi perusahaan, memperkenalkan produk secara langsung kepada pasar merupakan langkah untuk memperkuat pengenalan merek, memperluas jaringan usaha, dan meningkatkan daya saing produk nikel Indonesia.
Namun, pengembangan industri tersebut tetap membutuhkan dukungan teknologi yang efisien, standar mutu yang konsisten, kepatuhan terhadap perizinan dan ketentuan lingkungan, serta strategi pemasaran yang tepat agar mampu bersaing secara berkelanjutan.
PT Mahkota Konaweeha sendiri beralamat di Kelurahan Tononggeu, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Keikutsertaannya dalam TEI 2026 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi industri daerah kepada pasar yang lebih luas.
Yan berharap produk nikel perusahaan semakin dikenal, membuka peluang kemitraan baru, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Lebih dari sekadar promosi bisnis, keikutsertaan ini membawa pesan bahwa kreativitas dan inovasi pelaku usaha daerah dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat industri nasional.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha, potensi nikel Sulawesi Tenggara diharapkan terus berkembang melalui industri yang berdaya saing dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, daerah, dan perekonomian Indonesia.
Editor: Hasrul Terima











