/*
Breaking News
*/
Partai PolitikPolitik

Lantik Pengurus PAN se-Sultra, Zulhas Tegaskan Kader Wajib Dukung Gubernur Andi Sumangerukka

36
×

Lantik Pengurus PAN se-Sultra, Zulhas Tegaskan Kader Wajib Dukung Gubernur Andi Sumangerukka

Sebarkan artikel ini
(Foto: Hasrul/KR)

KOLOMRAKYAT.COM: KENDARI – Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menegaskan seluruh kader PAN di Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk mendukung program dan kepemimpinan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka.

Pesan tersebut disampaikan Zulhas saat melantik dan mengukuhkan jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) serta Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PAN se-Sultra, di salah satu hotel berbintang di Kota Kendari, Selasa (6/10/2026).

Dalam sambutannya, Zulhas meminta kader PAN tidak justru melontarkan kritik terhadap gubernur di ruang publik. Menurutnya, membangun daerah bukan pekerjaan mudah sehingga pemerintah membutuhkan dukungan dari seluruh elemen, termasuk partai politik.

“Tolong didukung gubernur. Jadi gubernur ini enggak gampang, membangun ini enggak gampang,” tegas Zulhas.

Ia bahkan mengingatkan seluruh kader PAN agar tidak melakukan kritik terhadap Gubernur Sultra di luar.

“Saya tidak mau dengar gubernur ada kritik di luar dari kader PAN. Enggak boleh,” ujarnya.

Baca Juga :  Daftar di Partai NasDem, Pj Bupati Bogor Asmawa Tosepu Siap Lahir Batin Calon Wali Kota Kendari

Zulhas juga menyinggung keterbatasan anggaran pemerintah daerah yang menurutnya menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan program pembangunan.

Ia meminta kader PAN memahami kondisi tersebut dan tidak buru-buru menilai pemerintah daerah tidak bekerja ketika tidak mampu merealisasikan berbagai program atau kepentingan pembangunan.

“Saya tahu gubernur itu. Gubernur kalau enggak bagi-bagi bukan pelit. Enggak ada proyek, enggak. Saya tahu gubernur, bupati itu anggarannya enggak ada,” katanya.

Menurut Zulhas, kondisi keuangan daerah yang terbatas harus disikapi dengan mencari alternatif pembiayaan dan solusi bersama.

“Kalau enggak bagi-bagi bukan pelit, memang anggaran dipotong. Jadi dukung, cari alternatif. Coba dukung bareng, cari pembayaran-pembayaran alternatif,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar hubungan antara gubernur, wakil gubernur dan para bupati di Sultra tetap harmonis. Menurutnya, konflik antarpemimpin daerah hanya akan menghabiskan energi dan menghambat pembangunan.

Baca Juga :  Yudhianto dan Nirna Lachmudin Selesaikan Seluruh Tahapan Pemeriksaan Kesehatan Calon Walikota

“Kalau wakil sama bupati berantem, wah itu. Tinggal nunggu waktu. Ini kan satu sama lain saling lapor lagi ke gubernur,” katanya.

Zulhas meminta kader PAN yang memiliki aspirasi atau usulan terkait pembangunan agar menyampaikannya melalui komunikasi yang baik kepada pemerintah daerah.

“Kalau ada hal yang penting, sampaikan sama gubernur baik-baik. Itulah adat kita. Jangan seperti nonton bola di luar, lempar-lemparan. Itu menghabiskan waktu,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para pengurus PAN agar memahami batas kewenangan masing-masing kepala daerah. Aspirasi dan gagasan, kata dia, tetap dapat disampaikan, namun keputusan akhir berada pada pemimpin daerah yang memperoleh mandat dari masyarakat.

“Kita bisa sampaikan pikiran-pikiran. Ada yang disetujui, ada yang enggak disetujui. Enggak apa-apa, gubernur yang punya hak. Kita jangan paksakan pikiran-pikiran kita,” ujar Zulhas.

Baca Juga :  ASR-Hugua Lirik Potensi Laut di Pulau Talaga, Bisa jadi Destinasi Wisata Bahari Jika Terpilih

Selain berbicara mengenai konsolidasi politik dan pemerintahan daerah, Zulhas turut menyinggung pentingnya meningkatkan produktivitas masyarakat, khususnya sektor pertanian.

Ia membandingkan produktivitas pertanian di Indonesia dengan sejumlah negara lain, termasuk Tiongkok. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas nasional.

“Kenapa produktif? Karena petaninya dapat perhatian terus. Petaninya sejahtera. Petaninya makmur, kreatif, banyak penemuan-penemuan baru, banyak teknologi-teknologi baru,” katanya.

Sebaliknya, ia menilai petani yang tidak sejahtera akan kesulitan meningkatkan produktivitas karena terbatasnya kemampuan untuk mengembangkan usaha pertanian.

“Kalau petani makin miskin, lemas diri, bagaimana makanannya? Enggak bisa. Dia mau produksi dari mana? Jadi kita kalah bersaing. Itulah yang disebut dengan kalah produktivitas,” pungkasnya.

 

 

Editor: Hasrul Tamrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!